14 Apr

Penyelamatan Sektor Pertanian Ditengah Pandemi Covid-19

JAKARTA– Virus SARS-CoV-2 atau Covid-19 sampai pertengahan April 2020 terlihat belum menemui titik akan mereda. Hal ini dibuktikan dengan data kasus positif setiap hari cenderung mengalami peningkatan yang signifikan. Terlebih, pandemi Covid-19 kini mulai mewabah ke seluruh Indonesia. Namun, Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah yang cukup berat yakni keterbatasan fasilitas medis dan jumlah tenaga medis yang kurang memadai.

Bila ditinjau dari karakteristiknya, virus Covid-19 sangat mudah mati oleh deterjen dan sistem imun tubuh. Artinya, virus ini mudah dikalahkan dengan cara memperkuat solidaritas sesama masyarakat secara kolektif untuk mematuhi himbauan pemerintah, maklumat dari tokoh agama serta WHO sebagai otoritas kesehatan dunia.

Dampak pandemi Covid-19 semakin terasa, terlebih menyerang jantung perekonomian Indonesia. Salah satunya, beberapa perusahaan telah melakukan PHK besar-besaran akibat pasar  yang kian melesu.

Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) medio 10 April ini, sudah ada 82.031 perusahaan baik formal maupun informal yang ‘merumahkan’ atau melakukan PHK terhadap karyawannya.

Tercatat pula tenaga kerja yang terkena PHK sebanyak 1.506.713 orang. Situasi ini menggambarkan sebuah ancaman krisis besar yang diprediksi lebih tragis dibandingkan krisis ekonomi pada 1998 dan 2008.

Demikian penilaian saya, mengingat ekonomi internasional disandera bukan oleh unit bisnis atau kondisi produk tertentu melainkan aktor ekonominya yang berhalangan hadir di hampir semua jenis pasar.

Potret ekonomi yang mulai melesu akibat pandemi Covid-19, saya teringat pada seorang pemikir neoklasik Harry W Richardson (1972) dalam bukunya yang berjudul Regional Economic Growth, bahwa pertumbuhan suatu wilayah tergantung pada faktor tenaga kerja, faktor ketersediaan modal, dan faktor kemajuan teknologi wilayah tersebut.

Saya menilai Harry cukup cerdik menentukan keutamaan faktor tenaga kerjanya. Hal ini bisa dilihat pada situasi saat ini, penerapan Physical Distancing membuat tenaga kerja harus meminimalisir aktivitasnya di luar rumah termasuk aktivitasnya di pabrik-pabrik.

Situasi demikian berimbas pada produksi yang tidak akan maksimal seperti di hari-hari biasanya. Disisi lain, hal ini juga berdampak pada rendahnya permintaan pasar akibat kesempatan belanja masyarakat yang semakin terbatas. Tentu hal ini dapat mengisyaratkan penyebab perusahaan mengambil langkah pengurangan tenaga kerja sebagai langkah terakhir dalam menyelamatkan bisnisnya.

Fenomena di atas nampaknya sudah mulai menjalar ke berbagai daerah bahkan ke desa- desa, sektor bisnis di pedesaan mau tidak mau harus mengalami situasi yang memilukan. Merekapun dituntut menurunkan skala operasinya bahkan opsi penutupan sementara menjadi pilihan alternatif.

Meskipun kebijakan Pemerintah untuk ‘merumahkan’ masyarakat menyisakan pengecualian di bidang kesehatan, energi, dan lainnya. Namun, sektor pertanian juga perlu mendapat perhatian karena menunjang pertumbuhan ekonomi signifikan di pedesaan.

Aktivitas pertanian di pedesaan harus tetap berjalan seperti biasa  karena berkaitan langsung dengan kebutuhan pokok yang berasal dari hasil panen pertanian. Dalam perspektif lain, perhatian pada sektor pertanian dinilai bisa menambal kekurangan bahan pangan di pasar. Oleh karena itu, peran sektor pertanian ditengah pandemi Covid-19 merupakan momentum untuk membangkitkan potensi petani tradisional untuk dapat berkontribusi menopang pertumbuhan ekonomi.

Peran petani tradisional yang akan memenuhi lumbung bahan pokok pun dinilai seiring sejalan dengan prinsip physical distancing karena mereka  akan bekerja di kebunnya masing-masing sehingga interaksi sosial diantara petani tetap terjaga.

Dengan demikian, sektor pertanian harus menjadi bidikan Pemerintah untuk dilibatkan dalam menanggulangi pandemi Covid-19, setidaknya mengisi ruang kosong untuk memenuhi kebutuhan bahan pokok sehingga pasokan kepada masyarakat tercukupi dan meningkatkan kemampuan ekonomi para petani di pedesaan.  (SRZ)


Penulis:

Muqaddim Karim
Ketua Bidang Ekonomi, Kewirausahaan dan Industri Kreatif – HMI Cabang Jakarta Selatan

Mahasiswa S2 Pascasarjana Ilmu Ekonomi Politik Universitas Nasional Jakarta

Leave a Reply