5 Dec

HMI Jaksel Kecam Pencatutan Demonstrasi HMI Se Jakarta

JAKARTA – Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Jakarta Selatan, Safarian Shah Zulkarnaen mengecam pencatutan nama HMI Se Jakarta yang akan melakukan aksi demonstrasi untuk menuntut Kemenkominfo mencabut izin penerbitan Kompas Gramedia.

“Saya sampaikan secara tegas bahwa HMI Cabang Jakarta Selatan tidak terlibat dalam aksi demonstrasi yang dilakukan untuk menuntut pencabutan izin terbit Kompas Gramedia,” tegas Safarian Shah Zulkarnaen.

Safarian Shah menambahkan, pengklaiman aksi demonstrasi HMI Se Jakarta kerap dilakukan oleh pihak – pihak tertentu dan hal tersebut sama sekali tidak mewakili seluruh sikap organisasi HMI Cabang Se Jakarta, khususnya Cabang Jakarta Selatan.

“Upaya pengklaiman seperti ini sudah sering terjadi, ya mungkin supaya aksi demonstrasinya terlihat besar padahal sama sekali tidak mewakili semua HMI Cabang yang ada di Jakarta. Maka dari itu, saya sebagai Ketua Umum HMI Cabang Jakarta Selatan menghimbau kepada seluruh kader HMI Cabang Jakarta Selatan untuk membudayakan sikap skeptis dan kritis terhadap isu yang muncul ke permukaan,” tambah Safarian Shah.

Sementara itu, Safarian Shah menyarankan kepada oknum yang akan melakukan demonstrasi untuk menyampaikan protes bukan hanya untuk Kompas Gramedia, akan tetapi melayangkan protes kepada seluruh media massa mainstream yang dianggap sengaja bungkam dan dikabarkan adanya dugaan pemberitaan negatif kepada masyarakat.

“Justru janggal bila hanya Kompas Gramedia yang disudutkan, apa kabar media massa lain? Memang seberapa parah pemberitaan Kompas Gramedia, kalau massa aksi itu mengaku keberatan dan menemukan ada pelanggaran dalam pemberitaan seharusnya membuat aduan kepada Dewan Pers yang nantinya dikategorikan sebagai sengketa pers,” tutur Safarian Shah yang juga mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi IISIP Jakarta.

Selain itu, Safarian Shah menghimbau kepada kader HMI untuk membudayakan literasi dan lebih memahami pokok persoalan agar narasi dan protes dilandasi dengan kajian kritis dan solutif. “Mari pahami dulu pokok persoalannya jangan sampai niatan baik untuk melakukan protes dilakukan dengan cara yang salah, seperti adanya upaya klaim dan terkadang salah alamat,” jelas Safarian Shah.

Lebih lanjutnya, Safarian Shah menyematkan rasa duka mendalam atas kematian pers di Indonesia. Hal ini berkaitan dengan adanya dugaan kesengajaan media massa tidak mempublikasikan peristiwa Reuni 212, beberapa waktu lalu.

“Media massa jangan justru membuka luka lama pers. Pers punya sejarah kelam dengan adanya pembungkaman secara terang – terangan baik kepada wartawannya maupun kepada institusi medianya di masa lalu. Maka dari itu, media massa harus tampil sebagai penyampai kebenaran dan tidak berpura – pura lupa akan nilai fundamentalnya sebagai lembaga yang menjalankan misi kenabian untuk menyampaikan kebenaran kepada masyarakat,” tutup Safarian Shah.

Leave a Reply